Selasa, 14 Juli 2015

laporan percobaan praktikum faal (indera peraba)


1.    Percobaan                                            :
Nama percobaan                          :
Subjek percobaan                               :
Tempat percobaan                       :
a.      Tujuan                                     :


b.      Dasar teori                              :



































































































































c.       Alat yang digunakan              :

d.      Jalannya percobaan               :
















e.       Hasil percobaan                      :


























f.       Kesimpulan                             :




g.      Daftar pustaka                       :




















2.    Percobaan                                            :
Nama Percobaan                          :
Subjek Percobaan                               :
Tempat percobaan                       :
a.      Tujuan                                     :



b.      Dasar teori                              :

































































c.       Alat yang digunakan              :
d.      Jalannya percobaan               :





e.       Hasil percobaan                      :











f.       Kesimpulan                             :



g.      Daftar pustaka                       :


























3.    Percobaan                                            :
Nama Percobaan                          :
Subjek Percobaan                               :
Tempat percobaan                       :
a.      Tujuan                                     :


b.      Dasar teori                              :












































c.       Alat yang digunakan              :


d.      Jalannya percobaan               :







e.       Hasil percobaan                      :















f.       Kesimpulan                             :




g.      Daftar pustaka                       :








4.    Percobaan                                            :
Nama Percobaan                          :
Subjek Percobaan                               :
Tempat percobaan                       :
a.      Tujuan                                     :

b.      Dasar teori                              :

















































































c.       Alat yang digunakan              :

d.      Jalannya percobaan               :


e.       Hasil percobaan                      :






f.       Kesimpulan                             :







g.      Daftar pustaka                       :







Indera Peraba
Percobaan perasaan pada kuliit
Andika Ibnul Faisal Sadif.
Laboratorium Dasar Psikologi Faal.
Untuk mengetahui adanya reseptor tekanan, sakit, sentuhan, dingin dan panas pada kulit, serta mengetahui letak masing-masing pada reseptor.
Kulit terdiri dari lapisan luar yang disebut epidermis dan lapisan dalam atau lapisan dermis. Pada epidermis tidak terdapat pembuluh darah dan sel saraf. Epidermis tersusun atas empat lapis sel. Dari bagian dalam ke bagian luar, pertama adalah stratum germinativum berfungsi membentuk lapisan di sebelah atasnya. Kedua, yaitu di sebelah luar lapisan germinativum terdapat stratum granulosum yang berisi sedikit keratin yang menyebabkan kulit menjadi keras dan kering. Selain itu sel-sel dari lapisan granulosum umumnya menghasilkan pigmen hitam (melanin). Kandungan melanin menentukan derajat warna kulit, kehitaman, atau kecoklatan. Lapisan ketiga merupakan lapisan yang transparan disebut stratum lusidum dan lapisan keempat (lapisan terluar) adalah lapisan tanduk disebut stratum korneum.
Penyusun utama dari bagian dermis adalah jaringan penyokong yang terdiri dari serat yang berwarna putih dan serat yang berwarna kuning. Serat kuning bersifat elastis/lentur, sehingga kulit dapat mengembang.
Stratum germinativum mengadakan pertumbuhan ke daerah dermis membentuk kelenjar keringat dan akar rambut. Akar rambut berhubungan dengan pembuluh darah yang membawakan makanan dan oksigen, selain itu juga berhubungan dengan serabut saraf. Pada setiap pangkal akar rambut melekat otot penggerak rambut. Pada waktu dingin atau merasa takut, otot rambut mengerut dan rambut menjadi tegak. Di sebelah dalam dermis terdapat timbunan lemak yang berfungsi sebagai bantalan untuk melindungi bagian dalam tubuh dari kerusakan mekanik.
Kulit berfungsi sebagai alat pelindung bagian dalam, misalnya otot dan tulang; sebagai alat peraba dengan dilengkapi bermacam reseptor yang peka terhadap berbagai rangsangan; sebagai alat ekskresi; serta pengatur suhu tubuh. Sehubungan dengan fungsinya sebagai alat peraba, kulit dilengkapi dengan reseptor-reseptor khusus. Reseptor untuk rasa sakit ujungnya menjorok masuk ke daerah epidermis. Reseptor untuk tekanan, ujungnya berada di dermis yang jauh dari epidermis. Reseptor untuk rangsang sentuhan dan panas, ujung reseptornya terletak di dekat epidermis.
Indra peraba merupakan indera yang sederhana, umumnya tersebar pada kulit mamalia dan sedikit sekali pada vertebrata rendah. Kepekaan peraba pada manusia sangat besar, terutama di ujung jari dan bibir.
Reseptor-reseptor yang terletak di alat indera peraba antara lain:
a. Ujung Saraf Bebas: Serat saraf sensorik aferen berakhir sebagai ujung akhir saraf bebas pada banyak jaringan tubuh dan merupakan reseptor sensorik utama dalam kulit. Serat akhir saraf bebas ini merupakan serat saraf yang tak bermielin, atau serat saraf bermielin berdiameter kecil, yang semua telah kehilangan pembungkusnya sebelum berakhir, dilanjutkan serat saraf terbuka yang berjalan di antara sel epidermis. Sebuah serat saraf seringkali bercabang-cabang banyak dan mungkin berjalan ke permukaan, sehingga hampir mencapai stratum korneum. Serat yang berbeda mungkin menerima perasaan raba, nyeri dan suhu. Sehubungan dengan folikel rambut, banyak cabang serat saraf yang berjalan longitudinal dan melingkari folikel rambut dalam dermis.
Beberapa saraf berhubungan dengan jaringan epitel khusus. Pada epidermis berhubungan dengan sel folikel rambut dan mukosa oral, akhir saraf membentuk badan akhir seperti lempengan (diskus atau korpuskel merkel). Badan ini merupakan sel yang berwarna gelap dengan banyak juluran sitoplasma. Seperti mekanoreseptor badan ini mendeteksi pergerakan antara keratinosit dan kemungkinan juga gerakan epidermis sehubungan dengan jaringan ikat di bawahnya. Telah dibuktikan bahwa beberapa diskus merkel merespon rangsangan getaran dan juga resepor terhadap dingin.
b.  Korpuskulus Peraba (Meissner): Korpuskulus peraba (Meissner) terletak pada papila dermis, khususnya pada ujung jari, bibir, puting dan genetalia. Bentuknya silindris, sumbu panjangnya tagak lurus permukaan kulit dan berukuran sekitar 80 mikron dan lebarnya sekitar 40 mikron. Sebuah kapsul jaringan ikat tipis menyatu dengan perinerium saraf yang menyuplai setiap korpuskel. Pada bagian tengah korpuskel terdapat setumpuk sel gepeng yang tersusun transversal. Beberapa sel saraf menyuplai setiap korpuskel dan serat saraf ini mempunyai banyak cabang mulai dari yang mengandung mielin maupun yang tak mangandung mielin. Korpuskulus ini peka terhadap sentuhan dan memungkinkan diskriminasi/ pembedaan dua titik (mampu membedakan rangsang dua titik yang letaknya berdekatan).
c. Korpuskulus Berlamel (Vater Pacini): Korpuskulus berlamel (vater pacini) ditemukan di jaringan subkutan pada telapak tangan, telapak kaki, jari, puting, periosteum, mesenterium, tendo, ligamen dan genetalia eksterna. Bentuknya bundar atau lonjong, dan besar (panjang 2 mm, dan diameter 0,5 – 1 mm). Bentuk yang paling besar dapat dilihat dengan mata telanjang, karena bentuknya mirip bawang.
     Setiap korpuskulus disuplai oleh sebuah serat bermielin yang besar dan juga telah kehilangan sarung sel schwannya pada tepi korpuskulus. Akson saraf banyak mengandung mitokondria. Akson ini dikelilingi oleh 60 lamela yang tersusun rapat (terdiri dari sel gepeng). Sel gepeng ini tersusun bilateral dengan dua alur longitudinal pada sisinya. Korpuskulus ini berfungsi untuk menerima rangsangan tekanan yang dalam.
d. Korpuskulus Gelembung (Krause): Korpuskulus gelembung (krause) ditemukan di daerah mukokutis (bibir dan genetalia eksterna), pada dermis dan berhubungan dengan rambut. Korpuskel ini berbentuk bundar (sferis) dengan diameter sekitar 50 mikron. Mempunyai sebuah kapsula tebal yang menyatu dengan endoneurium. Di dalam korpuskulus, serat bermielin kehilangan mielin dan cabangnya tetapi tetap diselubungi dengan sel schwan. Seratnya mungkin bercabang atau berjalan spiral dan berakhir sebagai akhir saraf yang menggelembung sebagai gada. Korpuskel ini jumlahnya semakin berkurang dengan bertambahnya usia. Korpuskel ini berguna sebagai mekanoreseptor yang peka terhadap dingin.
e. Korpuskulus Ruffini: Korpuskulus ini ditemukan pada jaringan ikat termasuk dermis dan kapsula sendi. Mempunyai sebuah kapsula jaringan ikat tipis yang mengandung ujung akhir saraf yang menggelembung. Korpuskulus ini merupakan mekanoreseptor, karena mirip dengan organ tendo golgi.
Korpuskulus ini terdiri dari berkas kecil serat tendo (fasikuli intrafusal) yang terbungkus dalam kapsula berlamela. Akhir saraf tak bermielin yang bebas, bercabang disekitar berkas tendonya. Korpuskulus ini terangsang oleh regangan atau kontraksi otot yang bersangkutan juga untuk menerima rangsangan panas.
3 baskom plastik ; serta beberapa maacam cairan atau larutan (air, alcohol 70% dan aseton)
1.1. cara kerja 3 baskom plastic
asisten lab menyediakan 3 baskom plastic yang berisikan air. Dimana baskom kiri berisikan air dingin, baskom tengah air biasa dan baskom kanan air hangat. Kemudian praktikan di suruh mencelupkan kedua tangannya secara bersamaan di baskom yang berada di kiri dan kanan selama 10 detik. Setelah 10 detik tanggan di angkat dan di simpan secara bersamaan pada baskom yang berada di tengah.
1.2. cara kerja air, alcohol 70% dan aseton
Pertama tangan praktikan yang  belum di beri cairan apapun.kemudian tangan di beri air dan  di  tiup. Paktikan merasakan perubahan apa yang terjadi, setalah itu tangan di usap lalu di berikan alcohol 70 %  dan prinsip kerjanya sama seperti air hingga cairan aseton.
1.1. Cara kerja 3 baskom plastic
Tangan kanan (panas) cepat normal kembali
Tangan kiri (dingin) tetap dingin
1.2. Cara kerja air, alcohol 70% dan aseton.
Air = tidak ada perubahan
Alcohol 70 % = terasa dingin
Aseton = terasa lebihdingin dari alcohol 70%
Hasil sebenarnya :
1.1. Cara kerja 3 baskom plastic
1.      Biasanya setelah di masukan  ke baskom tengah tangan kanan akan terasa dingin dan kiri akan terasa hangat.
2.      Kulit sebagai thermoreseptor mendeteksi panas dan dingin
3.      Tangan kanan terasa dingin  karwena ada pengurangan kalor => hangat ke netral
4.      Tangan kiri terasa hangat karena adanya penambahan kalor => dingin ke netral
1.2. Cara kerja air, alcohol 70% dan aseton
1.      Air lebih dingin lebih cuman di tiup
2.      Alcohol lebih dingi dari air
3.      Aseton lebih dingin dari alcohol
Ada reseptor pada kulit yaitu reseptor end Krause
Alcohol memiliki titik didih yang rendah sehingga mengenai kulit alcohol akan langsung mengenai kulit.
Selama proses penguapan alcohol memiliki kalor yang di ambil dari tubuh maka kulit akan terasa dingin.
 Pada percobaan kali ini kita dapat mengetahui kulit sebagai alat reseptor yang baik dimana dapat menghantarkan rasa dingin, panas, sakit, perih dan lain-lain. Hal ini karena kulit terdiri dari lapisan yang menyambung ke saraf.
Pastorino, E., Portillo, S.D. (2013). What is psychology             essential : 2nd edition. USA : College Bookstore.
Darley, J.M., Glucksberg, S.M., Kinchla, R.A. (1986).             Psychology. New Jersey, USA : A Divison of             Simon and Schuster, INC.
Puspitawati, I. (1998). Psikologi faal. Depok:             Universitas Gunadarma.

















Indera Peraba
Lokalisasi taktil.
Andika Ibnul Faisal Sadif.
Laboratorium Dasar Psikologi Faal.
Memahami serta mengetahui kepekaan syaraf dengan melokalisir tempat yang di tusukkan keberbagai tempat; serta mengetahui kepekaan TPL (Two Point Localization)
Kemampuan sensori taktil dikategorikan dalam dua hal yaitu diskriminasi intensitas dan diskriminasi spasial. Diskriminasi intensitas (misal sensitivitas) merujuk kepada kemampuan menilai  kekuatan simulus; diskriminasi spasial merupakan kemampuan membedakan lokasi atau titik asal rangsang. Basis saraf dari sensitivitas membedakan taktil terletak pada jumlah cabang sensori dan unit sensori pada setiap area di kulit.
Korpuskulus peraba (Meissner) terletak pada papila dermis, khususnya pada ujung jari, bibir, puting dan genetalia. Bentuknya silindris, sumbu panjangnya tagak lurus permukaan kulit dan berukuran sekitar 80 mikron dan lebarnya sekitar 40 mikron. Sebuah kapsul jaringan ikat tipis menyatu dengan perinerium saraf yang menyuplai setiap korpuskel. Pada bagian tengah korpuskel terdapat setumpuk sel gepeng yang tersusun transversal. Beberapa sel saraf menyuplai setiap korpuskel dan serat saraf ini mempunyai banyak cabang mulai dari yang mengandung mielin maupun yang tak mangandung mielin. Korpuskulus ini peka terhadap sentuhan dan memungkinkan diskriminasi/ pembedaan dua titik (mampu membedakan rangsang dua titik yang letaknya berdekatan).
Reseptor taktil adalah mekanoreseptor. Mekanoreseptor berespons terhadap perubahan bentuk dan penekanan fisik dengan mengalami depolarisasi dan menghasilkan potensial aksi. Apabila  depolarisasinya cukup besar, maka serat saraf yang melekat ke reseptor akan melepaskan potensial aksi dan menyalurkan informasi ke korda spinalis dan otak. Reseptor taktil yang berbeda memiliki kepekaan dan kecepatan mengirim impuls yang berbeda pula. Dikriminasi titik adalah Kemampuan membedakan rangsangan kulit oleh satu ujung benda dari dua ujung disebut diskriminasi dua titik. Berbagai daerah tubuh bervariasi dalam kemampuan membedakan dua titik pada tingkat derajat pemisahan bervariasi. Normalnya dua titik terpisah 2– 4 mm dpt dibedakan pada ujung jari tangan, 30-40mm dpt dibedakan pada dorsum pedis. Tes dapat menggunakan kompas, jepitan rambut.
Sensasi taktil dibawa ke korda spinalis oleh satu dari tiga jenis neuron sensorik: serat tipe A beta yang besar, serat tipe A delta yang kecil, dan serat tipe C yang paling kecil. Kedua jebis serat tipe A mengandung mielin dan menyalurkan potensial aksi dengna sangat cepat; semakin besar serat semakin cepat transmisinya dibanding serat yang lebih kecil. Informasi taktil yang dibawa dalam serat A biasanya terlokalisasi baik. Serat C yang tidak mengandung mielin dan menyalurkan potensial aksi ke korda spinalis jauh lebih lambat daripada serat A.
Hampir semua informasi mengenai sentuhan, tekanan, dan getaran masuk ke korda spinalis melalui akar dorsal saraf spinal yang sesuai. Setelah bersinap di spinal, informasi dengan lokalisasi dibawa oleh serat-serat A yang melepaskan potensial aksi dengan cepat (beta dan delta) di kirim ke otak melalui sistem lemniskus kolumna dorsalis. Serat-serat saraf dalam sisitem ini menyebrang dari kiri ke kanan di batang otak sebelum bersinaps di talamus. Informasi mengenai suhu dan sentuhan yang lokalisasi kurang baik di bawa ke korda spinalis melalui serat-serat C yang melepaskan potensial aksi secara lambat. Info tersebut dikirim ke daerah retikularis di batang otak dan kemudian ke pusa-pusat yang lebih tinggi melalui serat di sitem anterolateral.
Spidol 2 warna dan pengaris
Mulanya mata praktikan di tutup dengan kain kemudian praktikan mengambil spidol yang telah di sediakan oleh asisten lab. Setalah itu asisten lab memberikan tanda pada kulit praktikan menggunakan spidol dan praktikan mengikuti tanda tersebut setelah itu di ukur jarak dari tanda spidol asisten lab dan praktikan.
Hasil pertama = 1,5 cm
Hasil kedua = 1 cm
Hasil ketiga = 1 cm
Hasil sebenarnya :
1. Bila jarak kurang dari 5 cm =  syaraf raba baik
2. Bila jarak lebih dari 5 cm = syaraf raba kurang baik
3. TPL  (two point localization)   lebih   peka  terhadap
    bagian yang  menonjol  (hidung,  mata,   bibir, ujung
    jari, telinga dan lain-lain)
4. Jarak yang asisten tusuk dengan praktikan dapatkan
    tergantung waktu

TPL lebih peka terhadap bagian tubuh yang lebih menonjol. Dengan hasil yang di dapatkan oleh praktikan pada percobaan ini syaraf raba praktikan berjarak kurang dari 5 cm ini tandanya syaraf raba baik.
 Pastorino, E., Portillo, S.D. (2013). What is psychology             essential : 2nd edition. USA : College Bookstore.
Darley, J.M., Glucksberg, S.M., Kinchla, R.A. (1986).             Psychology. New Jersey, USA : A Divison of             Simon and Schuster, INC.
Puspitawati, I. (1998). Psikologi faal. Depok:             Universitas Gunadarma.























Indera Peraba
Daya membedakan sifat benda.
Andika Ibnul Faisal Sadif.
Laboratorium Dasar Psikologi Faal.
Untuk membuktikan kepekaan syaraf peraba terhadap kehalusan benda sampai kekerasan benda; serta bentuk-bentuk benda (streognostik).
Kepekaan kulit yang berambut terhadap stimulus besar, sehingga diduga bahwa akhiran saraf yang mengelilingi foliculus rambut adalah reseptor taktil.
Kita dapat membedakan benda – benda tanpa melihat bentuknya. Disini yang berperan adalah reseptor kinaesthesi. Bentuk dan berat benda dapat dibedakan dengan reseptor tekanan yang digeserkan.
Pada tempat di mana tidak ada rambut, tetapi dengan kepekaan yang besar terdapat stimulus taktil, ternyata banyak corpuscullum tactus. Diduga bahwa miniscus tactus juga merupakan reseptor taktil.
Perasaan taktil dapat dibedakan menjadi perasaan taktil kasar dan perasaan taktil halus. Impuls taktil kasar dihantarkan oleh tractus spinothalamicus anterior, sedangkan implus taktil halus dihantarkan melalui faciculus gracilis dan faciculus cunneatus.
Perasaan taktil dapat dibedakan menjadi perasaan taktil kasar dan perasaan taktil halus. Impuls taktil kasar dihantarkan oleh tractus spinothalamicus anterior, sedangkan implus taktil halus dihantarkan melalui faciculus gracilis dan faciculus cunneatus.
Sensasi taktil yang terdiri dari raba, tekanan dan getaran sering di golongkan sebagai sensasi terpisah, mereka semua dideteksi oleh jenis reseptor yang sama.          Satu – satunya perbedaan diantara ketiganya adalah :
1.  Sensasi raba, umunya disebabkan oleh reseptor taktil di dalam kulit atau di dalam jaringan tepat dibawah kulut.
2. Sensasi tekanan biasanya disebabkan oleh perubahan bentuk jaringan yang lebih dalam
3. Sensasi getaran, disebabkan oleh sinyal sensori yang berulang dengan cepat, tetapi menggunakan beberapa jenis reseptor yang sama seperti yang digunakan untuk raba dan tekanan.
Kepekaan kulit yang berambut terhadap stimulus besar, sehingga diduga bahwa akhiran syaraf yang mengelilingi foliculus rambut adalah reseptor taktil.
Kita dapat membedakan benda – benda tanpa melihat bentuknya. Disini yang berperan adalah reseptor kinaesthesi. Bentuk dan berat benda dapat dibedakan dengan reseptor tekanan yang digeserkan.Pada tempat di mana tidak ada rambut, tetapi dengan kepekaan yang besar terdapat stimulus taktil, ternyata banyak corpuscullum tactus. Diduga bahwa miniscus tactus juga merupakan reseptor taktil.
Saputangan besar, kain (berbagai macam dari yang halus sampai yang kasar), serta berbagai macam bentuk balok (kubus,silinder, lingkaran,segitiga dan kerucut)
3.1.            Cara kerja kekerasan permukaan
Pertama mata praktikan di tutup mengunakan kain kemudian mengambil kain dan menyebutkanurutan kain dari halus hingga kassar
3.2.            Cara kerja berbagai bentuk benda.
Pertama mata praktikan di tutup mengunakan kain dan mengambil serta menyebutkan benda apa yang di berikan oleh asisten lab.
4.1.           Cara kerja kekerasan permukaan
Urutan pertama kain putih
Urtan kedua kain ping
Urutan ketiga kain hitam
Urutan keempat kain peach
Urutan keempat kain hijau
4.2.             Cara kerja berbagai bentuk benda
Pada percobaan kali ini praktikan dapat menyebutkan dengan benar 5 bentuk benda dari 5 benda.
Hasil sebenarnya :
3.1. cara kerja kekerasan permukaan
Hitam
Ping
Putih
Peach
hijau
pada percobaan kali ini praktikan dapat membedakan bentuk benda dan permukaan kain dari halus hingga kasar dengan baik dan benar. Hal tersebut menandakan bahwa system peraba praktikan masih berfungsi dengan baik
Pastorino, E., Portillo, S.D. (2013). What is psychology             essential : 2nd edition. USA : College Bookstore.
Darley, J.M., Glucksberg, S.M., Kinchla, R.A. (1986).             Psychology. New Jersey, USA : A Divison of             Simon and Schuster, INC.
Puspitawati, I. (1998). Psikologi faal. Depok:             Universitas Gunadarma.




Indera Peraba
Gerak refleks.
Andika Ibnul Faisal Sadif.
Laboratorium Dasar Psikologi Faal.
Untuk mengetahui adanya gerakan-gerakan refleks pada otot.
Kepekaan kulit yang berambut terhadap stimulus besar, sehingga diduga bahwa akhiran saraf yang mengelilingi foliculus rambut adalah reseptor taktil.
Kita dapat membedakan benda – benda tanpa melihat bentuknya. Disini yang berperan adalah reseptor kinaesthesi. Bentuk dan berat benda dapat dibedakan dengan reseptor tekanan yang digeserkan.
Pada tempat di mana tidak ada rambut, tetapi dengan kepekaan yang besar terdapat stimulus taktil, ternyata banyak corpuscullum tactus. Diduga bahwa miniscus tactus juga merupakan reseptor taktil.
Gerak refleks berjalan sangat cepat dan tanggapan terjadi secara otomatis terhadap rangsangan, tanpa memerlukan kontrol dari otak. Jadi dapat dikatakan gerakan terjadi tanpa dipengaruhi kehendak atau tanpa disadari terlebih dahulu. Contoh gerak refleks misalnya berkedip, bersin, atau batuk. Dimana gerak refleks ini merupakan gerak yang dihasilkan oleh jalur saraf yang paling sederhana. Jalur saraf ini dibentuk oleh sekuen dari neuron sensorik, interneuron, dan neuron motorik, yang mengalirkan impuls saraf untuk tipe refleks tertentu. Gerak refleks yang paling sederhanahanya memerlukandua tipe sel saraf, yaitu neuron sensorik dan neuron motorik. Gerak refleks bekerja bukanlah dibawah kesadaran dan kemauan seseorang.
Pada gerak refleks, impuls melalui jalan pendek atau jalan pintas, yaitu dimulai dari reseptor penerima rangsang, kemudian diteruskan oleh saraf sensori ke pusat saraf, diterima oleh set saraf penghubung (asosiasi) tanpa diolah di dalam otak langsung dikirim tanggapan ke saraf motor untuk disampaikan ke efektor, yaitu otot atau kelenjar. Jalan pintas ini disebut lengkung refleks. Gerak refleks dapat dibedakan atas refleks otak bila saraf penghubung (asosiasi) berada di dalam otak, misalnya, gerak mengedip atau mempersempit pupil bila ada sinar dan refleks sumsum tulang belakang bila set saraf penghubung berada di dalam sumsum tulang belakang misalnya refleks pada lutut.
Gerak refleks adalah gerak yang dihasilkan oleh jalur saraf yang paling sederhana. Jalur saraf ini dibentuk oleh sekuen neuron sensor, interneuron, dan neuron motor, yang mngalirkan impuls saraf untuk tipe reflek tertentu. Gerak refleks yang paling sederhana hanya memerlukan dua tipe sel saraf yaitu neuron sensor dan neuron motor.
Gerak refleks disebabkan oleh rangsangan tertentu yang biasanya mengejutkan dan menyakitkan. Misalnya bila kaki menginjak paku,secara otomatis kita akan menarik kaki dan akan berteriak. Refleks juga terjadi ketika kita membaui makanan enak , dengan keluarnya air liur tanpa disadari. Berikut skema gerak refleks: Impuls_reseptor_ neuron _sensorik_interneuron_medulla_spinalis_interneuron_ Neuron motorik_efektor_ gerakan.
Gerak refleks terjadi apabila rangsangan yang diterima oleh saraf sensori langsung disampaikan oleh neuron perantara (neuron penghubung). Hal ini berbeda sekali dengan mekanisme gerak biasa.
Gerak biasa rangsangan akan diterima oleh saraf sensorik dan kemudian disampaikan langsung ke otak. Dari otak kemudian dikeluarkan perintah ke saraf motori sehingga terjadilah gerakan. Artinya pada gerak biasa gerakan itu diketahui atu dikontrol oleh otak. Sehingga oleh sebab itu gerak biasa adalah gerak yang disaari. Gerak merupakan pola koordinasi yang sangat sederhana untuk menjelaskan penghantaran impuls oleh saraf.
Gerak pada umumnya terjadi secara sadar, namun, ada pula gerak yang terjadi tanpa disadari yaitu gerak refleks. Impuls pada gerakan sadar melalui jalan panjang, yaitu dari reseptor, ke saraf sensori, dibawa ke otak untuk selanjutnya diolah oleh otak, kemudian hasil olahan oleh otak, berupa tanggapan, dibawa oleh saraf motor sebagai perintah yang harus dilaksanakan oleh efektor.
Gerak refleks berjalan sangat cepat dan tanggapan terjadi secara otomatis terhadap rangsangan, tanpa memerlukan kontrol dari otak. Jadi dapat dikatakan gerakan terjadi tanpa dipengaruhi kehendak atau tanpa disadari terlebih dahulu. Contoh gerak refleks misalnya berkedip, bersin, atau batuk.
Sebuah martil refleks dengan bagian depan terbuat dari karet.
Praktikan duduk di atas meja kemudian merilekskan kedua kakinya dan asisten lab megetuk salah satu lutut praktikan.
Pada percobaan kali ini terjadi gerakan refleks pada lutut praktikan.
Hasil sebenarnya :
1. Lutut yang di pukul dengan martil reflek secara spontan akan bergerak sendiri (ada gerak refleks)
2. Namun tidak harus bergerak, bisa juga terasa seperti tersetrum
Gerak refleks disebabkan oleh rangsangan tertentu yang biasanya mengejutkan dan menyakitkan. Gerak refleks berjalan sangat cepat dan tanggapan terjadi secara otomatis terhadap rangsangan, tanpa memerlukan kontrol dari otak. Jadi dapat dikatakan gerakan terjadi tanpa dipengaruhi kehendak atau tanpa disadari terlebih dahulu. Contoh gerak refleks misalnya berkedip, bersin, atau batuk.
Pastorino, E., Portillo, S.D. (2013). What is psychology             essential : 2nd edition. USA : College Bookstore.
Darley, J.M., Glucksberg, S.M., Kinchla, R.A. (1986).             Psychology. New Jersey, USA : A Divison of             Simon and Schuster, INC.
Puspitawati, I. (1998). Psikologi faal. Depok:             Universitas Gunadarma.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rasional emotif Therapy (materi, video dan analisis video)

Nama : Andika Ibnul Faisal Sadif Kelas  : 3PA02 Npm  : 11514069 I. MATERI RET   A. Rational Emotive Therapy (RET) 1.   ...