Selasa, 14 Juli 2015

laporan hasil praktikum faal ( indera penglihatan)




1.    Percobaan                        : Indera Penglihatan
Nama percobaan             : Refleks ( Reaksi Pupil )
Subjek percobaan            : Andin
Tempat percobaan          : Laboratorium Dasar Psikologi Faal
a.      Tujuan                        : Untuk mengetahui dan memahami reaksi-reaksi yang  
                                        terjadi pada pupil mata.
b.      Dasar Teori                : Pupil adalah  bagian  mata  yang  terletak  pada  depan
mata yang dapat memungkinkan gelombang cahaya memasuki bagian dalam mata (Plotnik, 2005 : 95). Pupil adalah bundaran hitam yang melingkari iris. Pupil terletak di belakang retina bagian tengah. Diameter pupil normal antara 3-5mm, dengan rata-rata 3 - 3.5 mm. Diameter pupil yang kurang dari 3 mm disebut miosis dan bila lebih dari 5 mm disebut midriasis. Perbedaan antara pupil kiri dan kanan  sebesar 0.5 1 mm dapat di anggap normal atau disebut juga anisokor fisiologik. Bentuk pupil normal adalah bulat. Secara normal pupil memberikan reaksi  yang cepat terhadap cahaya terang, hal ini di sebabkan karena pupil berfungsi sebagai diafragma yang mengatur jumlah sinar yang sampai ke retina. Pupil akan membesar jika cahaya yang di terima oleh mata sedikit. Sendangkan, jika cahaya yang di teima oleh mata sangat terang maka pupil akan mengecil.
c.       Alat yang di gunakan :  Cermin, senter dan sedotan

d.      Jalannya percobaan   : 1.1. Percobaan secara langsung
Praktikan  menyenter mata temannya secara tiba-tiba dan melihat reaksi yang terjadi pada pupil rekannya tersebut.
1.2.     Percobaan menggunakan sedotan.
Praktikan menempatkan sedotan tepat di depan mata rekannya kemudian  menyenter  mata rekannya dan melihat reaksi yang terjadi pada pupil rekannya.
1.3.   Percobaan menggunakan cermin
Tempatkan cermin di depan mata praktikan kemudian senter salah satu mata dan melihat reaksi yang terjadi.


e.       Hasil percobaan          : 1.1. Percobaan secara langsung
Awalnya pupil terlihat normal sebelum diberikan cahaya langsung dari senter, ketika cahaya di arahkan ke pupil mata, pupil pada subyek penelitian terlihat mengecil diameternya dengan sangat cepat, seolah-olah membatasi cahaya yang masuk ke dalam mata.
1.2.    Percobaan menggunakan sedotan
Jika cahaya senter di arahkan menggunakan media sedotan, maka cahaya yang masuk ke dalam pupil sedikit terhalang. Pada percobaan ini pupil mengecil dengan perlahan.

1.3.    Percobaan menggunakan cermin
Mulanya pupil terlihat normal. Namun ketika diberikan pencahayaan oleh senter, maka pupil perlahan mengecil. Namun proses pengecilan pupil pada percobaan ini tidak secepat percobaan secara langsung.


f.       Hasil sebenarnya        :  1.1. Percobaan secara langsun
Pupil mengecil secara cepat dari sebelumnya.
1.2.    Percobaan mengunakan sedotan
Pupil  mengecil secara lambat dibandingkan percobaan pertama.
1.3.    Percobaan mengunakan cermin
Pupil perlahan mengecil akibat pantulan  cahaya.


g.      Kesimpulan                 :  Berdasarkan tiga percobaan di atas dapat disimpulkan
bahwa semakin banyak cahaya yang diterima oleh mata tanpa terhalang oleh objek lain, maka perubahan pupil akan semakin cepat. Sendangkan, jika cahaya yang diterima oleh mata terhalang atau cahaya tersebut adalah cahaya pantulan dari objek lain, maka perubahan pupil semakin lambat mengecil. Hal ini disebabkan karena cahaya yang di terima oleh mata semakin berkurang dibanding saat langsung terkena oleh mata tanpa perantara.





h.      Daftar pustaka           :  1. Japardi, Iskandar (2003).  Pemeriksaan  dan   Sisi
Praktis Merawat Pasien Cedera Kepala. Jurnal Keperawatan Indonesia,7, 32-35.
2. Wilson,      Josephine F.   (2003).       Biological
Foundations of Human Behavior. Canada. Thomson learning.
3.    Basuki,    Heru A.M (2008). Psikologi   Umum,
Jakarta. Universitas Gunadarma.














2.    Percobaan                        : Indera Penglihatan
Nama percobaan             : Aliran darah pada retina ( Peristiwa Entropis => 
                                             peristiwa bergeraknya pembuluh darah arteri / vena
                                             ke retina.
Subjek percobaan            : Andin
Tempat percobaan          : Laboratorium Dasar Psikologi Faal
a.      Tujuan                        : Untuk melihat bahwa dimata terdapat erotrosit yang
                                       berjalan disepanjang pembuluh darah arteri / vena.
b.      Dasar Teori                : Pada mata terdapat pembuluh darah, yaitu pembuluh
darah  arteri dan vena. Pembuluh darah arteri ini di sebut juga pembuluh nadi yang berfungsi sebagai pengantar darah dari jantung keseluruh tubuh. Sedangkan pembuluh vena disebut juga pembuluh balik yang berfungsi sebagai pembawa darah dari seluruh tubuh ke jantung. Pembuluh darah tersebut terdapat juga pada retina. Retina adalah bagian syaraf pada mata yang terletak dipaling belakang bola mata. Diretina terdapat sel-sel yang sangat peka terhadap cahaya. Sel-sel tersebut adalah photoreceptor. Photoreceptor (penerima foto) ini memulai proses tranduksi dengan menyerap gelombang-gelombang cahaya. (Plotnik,2005:95)
 Selain itu, terdapat sel batang dan kerucut yang sangat peka terhadap cahaya yang masuk ke mata. Kedua sel ini berfungsi mengirim implus syaraf dari syaraf optik ke syaraf pusat. Pada retina bagian luar terdapat khoroid, Khoroid berfungsi sebagai pemberi makan pada bagian mata dan pemelihara sel mata. Penyumplai darah pada mata dan retina adalah pembuluh arteri yang langsung dari pusat.
c.       Alat yang di gunakan :  Senter dan kaca reben.
d.      Jalannya percobaan   : 2.1. Menggunakan Semter (langsung)
Subjek menolehkan matanya kearah kiri dan praktikan menyenter mata subjek dari arah kanan.
2.2.    Menggunakan kaca reben
Sama halnya seperti percobaan pertama. Hanya saja pada percobaan kali ini subjek menoleh kearah kiri dan praktikan menyenter dari sebelah kanan menggunkan kaca reben.
e.       Hasil percobaan          : 2.1. Menggunakan senter (langsung)
Pada percobaan kali ini pembuluh darah sebelum di senter nyaris tak tampak, namun setelah di senter perubahan terlihat sangat jauh berbeda setelah mendapatkan pencahayaan. Pembuluh darah secara cepat tampak dibagian sklera.
2.2.    Menggunakan kaca reben.
Pada saat percobaan ini dilakukan dengan cara subjek menoleh ke kiri dan praktikan menyenter dari arah kanan menggunakan kaca reben. Reaksi yang terjadi pada pembuluh darah tampak sangat lambat. Hal ini dipengaruhi oleh cahaya yang diterima sangat sedikit akibat adanya cahaya rambatan dari kaca reben.
f.       Hasil sebenarnya        : 2.1. Menggunakan senter (langsung)
Pembuluh darah bereaksi sangat cepat.
2.2.       Menggunakan kaca reben
Pembuluh darah bereaksi agak lambat.


g.      Kesimpulan                 :  Berdasarkan tiga percobaan di atas dapat disimpulkan
bahwa semakin banyak cahaya yang diterima oleh mata, maka pembuluh darah akan sangat cepat tampak dan bereaksi. Sebaliknya, jika cahaya yang di terima dari pembiasan maka pembuluh darah akan lambat bereaksi. Serta dengan adanya pencahayaan ini dapat dilihat pembuluh darah yang terdapat pada retina kita.
h.      Daftar pustaka           :   1. Wilson,   Josephine    F.      (2003).      Biological
Foundation of Human Behavior. Canada. Thomson learning.
2. Guyton,    Artur  C   (1994).    Fisiologi    Tubuh
Manusia. Jilid I. Jakarta. Binarupa aksara.
3.    Basuki,      Heru   A.M       (2008).       Psikologi
Umum,Jakarta : Universitas Gunadarma.













3.      Percobaan                       : Indera Penglihatan
Nama percobaan             : Visus (Ketajaman Mata)
Subjek percobaan            : Andika Ibnul Faisal Sadif
Tempat percobaan          : Laboratorium Dasar Psikologi Faal
a.      Tujuan                        : Untuk mengetahui ketajaman mata seseorang.
b.      Dasar Teori               : Visus atau ketajaman mata dalam penglihatan   
                                   seseorang dapat di kelompokkan menjadi 4, yaitu :
a.    Mata normal (emetropi)
Pada mata normal benda yang ditangkap oleh lensa mata tepat jatuh pada retina.
b.    Rabun jauh (myopi)
Rabun jauh adalah benda yang ditangkap oleh lensa mata tepat jatuh di depan fovea nasalis. Rabun jauh  dapat ditolong dengan kacamata berlensa cekung (negative).
c.    Rabun dekat (hypermetropi)
Rabun dekat adalah benda yang ditangkap oleh lensa mata tepat jatuh dibelakang fovea nasalis. Penderita ini dapat ditolong dengan kacamata berlensa cembung (positif).
d.   Silindris (astagmatisma)
Penderita ini biasanya disebabkan karena faktor keturunan dan usia. Penderita astagmatisma dapat ditolong dengan kacamata silindris yang berfungsi ganda untuk rabun jauh dan dekat.





Rumus visus :


Ket : V = Visus
         d  = jarak antara optotype dan subjek
         D = jarak sejauh mana huruf dapat di baca
Fungsi dari visus ini adalah untuk mengetahui seberapa tajam mata kita dan apakah terdapat adanya rabun atau silindris.
c.       Alat yang di gunakan :  Optotype Snellen
d.      Jalannya percobaan   :  Praktikan berdiri depan Optotype Snellen  dengan  
   jarak 3,5 m. Salah satu matanya ditutup kemudian
   menebak huruf yang diinstruksikan oleh pemeriksa.
e.       Hasil percobaan          :  Hasil yang diterima praktikan pada saat percobaan
   adalah mata kiri 15 dan mata kanan 15.
f.       Kesimpulan                 :  Hasil yang diterima praktikan setelah melakukan
   percobaan mengunakan  Optotype snellen dapat  
   disimpulkan bahwa mata praktikan normal
g.      Daftar pustaka           : 1. Gyuton, Artur C (1994). Fisiologi Tubuh Manusia.
Jilid I. Jakarta. Binarupa aksara.
2.   Kusuma, Priska Dewi (2008). Perbedaan Tajam
Penglihatan Pasca Operasi Katarak Senilis. Hal 4-5.
3.   Wilson, Josephine F (2003). Biological Foundations
of Human Behavior. Canada. Thomson learning.





4.    Percobaan                        : Indera Penglihatan
Nama percobaan             : Membedakan dan percampuran warna secara objektif
Subjek percobaan            : Andika Ibnul Faisal Sadif
Tempat percobaan          : Laboratorium Dasar Psikologi Faal
a.      Tujuan                        : Untuk mengetahui perbedaan orang yang matanya
                                       normal atau buta warna.
b.      Dasar Teori               : Buta   warna   adalah   salah satu penyakit yang cukup
serius dalam suatu silsilah keluarga. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit menurun. Buta warna yaitu ketidakmampuan dalam membedakan dua atau lebih corak spectrum warna. (Plotnik,2005:99).
Buta warna terbagi menjadi 2 jenis yaitu :
Monokromat (buta warna total) yaitu hanya dapat melihat warna hitam dan putih saja. Penderita ini jarang di temui. (Plotnik,2005:99)
Dikromat (buta warna sebagian), biasanya tidak dapat membedakan warna-warna tertentu dengan baik. Missalnya membedakan warna merah dan hijau, hal ini disebabkan karena meraka hanya memiliki dua jenis cones. (Plotnik,2005:99)
Selain karena factor turunan, buta warna juga dapat di sebabkan oleh kelainana sejak lahir atau akibat pengaruh obat-obatan yang berlebihan. Buta warna biasanya dapat di jumpai pada anak laki-laki, sendangkan wanita hanya pembawa gen tersebut.
Thomas Young dan Hermann Von. H, menyimpulkan bahwa hanya tiga reseptor yang di butuhkan untuk melihat seluruh warna. Tiga reseptor ini masing-masing merupakan warna dasar yaitu merah, biru dan hijau.
c.       Alat yang di gunakan :  a. kaca biasa
b. Benang wol berbagai warna
c. Kertas :
            Merah dan kuning
            Biru dan kuning
Merah dan biru
d.      Jalannya percobaan   : 4.1. Menggunakan benang wol berbagai warna.
Praktikan mengambil 5 warna yang sesuai dengan warna yang diberikan oleh penguji secara cepat.
4.2.    Menebak warna
Praktikan menyebutkan warna apa yang dihasilkan dari perpaduan warna pada kaca.
e.       Hasil percobaan          : 4.1. Menggunakan benag wol berbagai warna
5 warna yang di ambil praktikan secara cepat sesuai dengan warna yang diberikan oleh penguji.
4.2      Menebak warna
4.2.1.           Merah dan biru
Pada percobaan ini praktikan menyebutkan warna yang dihasilkan adalah ungu
4.2.2.           Merah dan kuning
Pada percobaan ini praktikan menyebutkan warna yang di hasilkan adalah orange.


4.2.3.                                   Kuning dan biru
Pada percobaanini praktikan menyebutkan warna yang di hasilkan adalah hijau.
f.       Hasil sebenarnya        : Menebak warna
a.       Merah dan biru = ungu
b.      Merah dan kuning = orange
c.       Kuning dan biru = hijau
g.      Kesimpulan                 : Subjek    yang    di   uji   pada   percobaan  ini  dapat
membedakan warna serta mengambil dan menebak warna dengan benar. Kesimpulannya adalah subjek tidak mengalami buta warna secara total ataupun sebagian.
h.      Daftar pustaka           :  1.  Basuki,   Heru A.M  (2008).    Psikologi   Umum.
Jakarta. Universitas Gunadarma.
2.    Wilson,     Josephine   F     (2003).     Biological
Foundations of Human Behavior. Canada. Thomson learning.
3.    Guyton,   Artur   C.   (1994).   Fisiologi    Tubuh
Manusia. Jilid I. Jakarta. Binarupa aksara.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rasional emotif Therapy (materi, video dan analisis video)

Nama : Andika Ibnul Faisal Sadif Kelas  : 3PA02 Npm  : 11514069 I. MATERI RET   A. Rational Emotive Therapy (RET) 1.   ...