1. Percobaan : Indera
Penglihatan
Nama
percobaan : Refleks
( Reaksi Pupil )
Subjek
percobaan : Andin
Tempat
percobaan : Laboratorium
Dasar Psikologi Faal
a. Tujuan : Untuk
mengetahui dan memahami
reaksi-reaksi yang
terjadi
pada pupil mata.
b.
Dasar
Teori : Pupil
adalah bagian mata yang terletak
pada
depan
mata yang dapat memungkinkan gelombang cahaya memasuki
bagian dalam mata (Plotnik, 2005
: 95). Pupil adalah bundaran hitam yang melingkari iris. Pupil
terletak di belakang retina bagian tengah. Diameter
pupil normal antara 3-5mm, dengan rata-rata 3 - 3.5 mm. Diameter pupil yang kurang dari 3 mm
disebut miosis dan bila lebih dari 5 mm disebut midriasis. Perbedaan antara pupil kiri dan
kanan sebesar
0.5 – 1 mm dapat di anggap normal atau disebut
juga anisokor fisiologik. Bentuk
pupil normal adalah bulat. Secara
normal pupil memberikan reaksi yang
cepat terhadap cahaya terang, hal ini di sebabkan karena pupil berfungsi
sebagai diafragma yang mengatur jumlah sinar yang sampai ke retina. Pupil akan membesar jika cahaya yang di
terima oleh mata sedikit. Sendangkan, jika cahaya yang di teima oleh mata
sangat terang maka pupil akan mengecil.
c.
Alat
yang di gunakan : Cermin,
senter dan sedotan
d.
Jalannya
percobaan : 1.1.
Percobaan secara langsung
Praktikan menyenter mata temannya secara tiba-tiba dan
melihat reaksi yang terjadi pada pupil rekannya tersebut.
1.2. Percobaan
menggunakan sedotan.
Praktikan
menempatkan sedotan tepat di depan mata rekannya kemudian menyenter
mata rekannya dan melihat reaksi yang terjadi pada pupil rekannya.
1.3. Percobaan
menggunakan cermin
Tempatkan
cermin di depan mata praktikan kemudian senter salah satu mata dan melihat
reaksi yang terjadi.
e.
Hasil
percobaan : 1.1.
Percobaan secara langsung
Awalnya
pupil terlihat normal sebelum diberikan cahaya langsung dari senter, ketika
cahaya di arahkan ke pupil mata, pupil pada subyek penelitian terlihat mengecil
diameternya dengan sangat cepat, seolah-olah membatasi cahaya yang masuk ke
dalam mata.
1.2. Percobaan
menggunakan sedotan
Jika
cahaya senter di arahkan menggunakan media sedotan, maka cahaya yang masuk ke
dalam pupil sedikit terhalang. Pada percobaan ini pupil mengecil dengan
perlahan.
1.3. Percobaan
menggunakan cermin
Mulanya
pupil terlihat normal. Namun
ketika diberikan pencahayaan oleh senter, maka pupil perlahan mengecil. Namun proses pengecilan
pupil pada percobaan ini tidak secepat percobaan secara langsung.
f.
Hasil
sebenarnya : 1.1. Percobaan secara
langsun
Pupil
mengecil secara cepat dari sebelumnya.
1.2. Percobaan
mengunakan sedotan
Pupil mengecil secara lambat dibandingkan percobaan pertama.
1.3. Percobaan
mengunakan cermin
Pupil
perlahan mengecil akibat pantulan cahaya.
g.
Kesimpulan : Berdasarkan tiga percobaan
di atas dapat disimpulkan
bahwa semakin banyak
cahaya yang diterima oleh mata tanpa terhalang oleh objek lain, maka perubahan pupil akan semakin cepat.
Sendangkan, jika cahaya yang diterima oleh mata terhalang atau cahaya tersebut
adalah cahaya pantulan dari objek lain, maka
perubahan pupil semakin lambat mengecil. Hal ini disebabkan karena cahaya yang di terima
oleh mata semakin berkurang dibanding saat langsung terkena oleh mata tanpa
perantara.
h.
Daftar
pustaka : 1. Japardi, Iskandar (2003). Pemeriksaan
dan
Sisi
Praktis
Merawat Pasien Cedera Kepala. Jurnal Keperawatan Indonesia,7, 32-35.
2.
Wilson, Josephine F.
(2003). Biological
Foundations
of Human Behavior. Canada. Thomson learning.
3.
Basuki, Heru
A.M (2008). Psikologi Umum,
Jakarta.
Universitas Gunadarma.
2.
Percobaan : Indera
Penglihatan
Nama percobaan :
Aliran darah pada retina (
Peristiwa Entropis =>
peristiwa bergeraknya pembuluh darah arteri / vena
ke retina.
Subjek
percobaan : Andin
Tempat
percobaan : Laboratorium
Dasar Psikologi Faal
a.
Tujuan : Untuk
melihat bahwa dimata terdapat erotrosit yang
berjalan disepanjang
pembuluh darah arteri / vena.
b.
Dasar
Teori : Pada
mata terdapat pembuluh darah, yaitu
pembuluh
darah
arteri
dan vena. Pembuluh darah arteri ini di sebut juga pembuluh nadi yang berfungsi sebagai
pengantar darah dari jantung keseluruh tubuh. Sedangkan
pembuluh vena disebut juga pembuluh balik yang berfungsi sebagai pembawa darah dari seluruh tubuh ke jantung. Pembuluh
darah tersebut terdapat juga
pada
retina. Retina adalah bagian syaraf pada mata
yang terletak dipaling belakang bola mata. Diretina terdapat sel-sel yang sangat peka
terhadap cahaya. Sel-sel
tersebut adalah photoreceptor.
Photoreceptor (penerima foto) ini memulai proses tranduksi dengan menyerap gelombang-gelombang
cahaya. (Plotnik,2005:95)
Selain itu, terdapat sel batang dan kerucut yang sangat peka terhadap cahaya yang
masuk ke mata. Kedua sel ini berfungsi mengirim implus syaraf
dari syaraf optik ke syaraf pusat. Pada
retina bagian luar terdapat khoroid, Khoroid
berfungsi sebagai pemberi makan pada bagian mata dan pemelihara sel mata. Penyumplai darah pada mata dan retina
adalah pembuluh arteri yang langsung dari pusat.
c. Alat yang di gunakan : Senter
dan kaca reben.
d.
Jalannya
percobaan : 2.1.
Menggunakan Semter (langsung)
Subjek
menolehkan matanya kearah kiri dan praktikan menyenter mata subjek dari arah
kanan.
2.2. Menggunakan
kaca reben
Sama
halnya seperti percobaan pertama. Hanya
saja pada percobaan kali ini subjek menoleh
kearah kiri dan praktikan menyenter dari sebelah kanan menggunkan kaca reben.
e.
Hasil
percobaan : 2.1.
Menggunakan senter (langsung)
Pada
percobaan kali ini pembuluh darah sebelum di senter
nyaris tak tampak, namun setelah di senter perubahan terlihat sangat jauh berbeda setelah mendapatkan pencahayaan. Pembuluh darah secara cepat tampak dibagian
sklera.
2.2. Menggunakan
kaca reben.
Pada
saat percobaan ini dilakukan dengan
cara subjek
menoleh ke kiri dan praktikan menyenter dari arah kanan menggunakan kaca reben. Reaksi yang terjadi pada pembuluh darah
tampak sangat lambat. Hal
ini dipengaruhi oleh cahaya yang diterima sangat sedikit akibat adanya cahaya rambatan dari kaca reben.
f.
Hasil
sebenarnya : 2.1.
Menggunakan senter (langsung)
Pembuluh
darah bereaksi sangat cepat.
2.2.
Menggunakan kaca reben
Pembuluh
darah bereaksi agak lambat.
g.
Kesimpulan : Berdasarkan tiga
percobaan di atas dapat disimpulkan
bahwa semakin banyak
cahaya yang diterima oleh mata, maka pembuluh darah akan sangat cepat tampak dan bereaksi. Sebaliknya, jika cahaya yang di terima dari
pembiasan maka pembuluh
darah akan lambat bereaksi. Serta dengan adanya pencahayaan
ini dapat dilihat
pembuluh darah yang terdapat pada retina kita.
h. Daftar pustaka : 1. Wilson, Josephine F. (2003). Biological
Foundation
of Human Behavior. Canada. Thomson learning.
2.
Guyton, Artur C (1994).
Fisiologi Tubuh
Manusia. Jilid
I. Jakarta. Binarupa aksara.
3.
Basuki, Heru A.M (2008). Psikologi
Umum,Jakarta
: Universitas Gunadarma.
3. Percobaan : Indera
Penglihatan
Nama percobaan :
Visus
(Ketajaman Mata)
Subjek
percobaan : Andika
Ibnul Faisal Sadif
Tempat
percobaan : Laboratorium
Dasar Psikologi Faal
a.
Tujuan : Untuk
mengetahui ketajaman mata seseorang.
b. Dasar Teori
: Visus
atau ketajaman mata dalam penglihatan
seseorang dapat di kelompokkan menjadi 4, yaitu :
a. Mata
normal (emetropi)
Pada
mata normal benda yang ditangkap oleh lensa mata tepat jatuh pada retina.
b. Rabun
jauh (myopi)
Rabun
jauh adalah benda yang ditangkap oleh lensa mata tepat jatuh di depan fovea
nasalis. Rabun jauh
dapat ditolong dengan kacamata berlensa cekung (negative).
c. Rabun
dekat (hypermetropi)
Rabun
dekat adalah benda yang ditangkap oleh lensa mata tepat jatuh dibelakang fovea nasalis. Penderita
ini dapat ditolong dengan kacamata berlensa
cembung (positif).
d. Silindris
(astagmatisma)
Penderita
ini biasanya disebabkan karena
faktor keturunan dan usia. Penderita astagmatisma dapat ditolong dengan
kacamata silindris yang
berfungsi ganda untuk rabun jauh dan dekat.
Rumus visus :
Ket : V = Visus
d = jarak antara optotype dan subjek
D = jarak sejauh mana
huruf dapat di baca
Fungsi dari visus ini
adalah untuk
mengetahui seberapa tajam mata kita dan apakah terdapat adanya rabun atau silindris.
c. Alat yang di gunakan : Optotype
Snellen
d.
Jalannya
percobaan : Praktikan berdiri depan
Optotype Snellen dengan
jarak 3,5 m. Salah satu matanya ditutup kemudian
menebak huruf yang diinstruksikan oleh pemeriksa.
e.
Hasil
percobaan : Hasil yang diterima
praktikan pada saat percobaan
adalah mata kiri 15 dan mata kanan 15.
f. Kesimpulan : Hasil yang diterima praktikan setelah melakukan
percobaan
mengunakan Optotype
snellen dapat
disimpulkan bahwa mata
praktikan normal
g. Daftar pustaka : 1. Gyuton, Artur
C (1994). Fisiologi Tubuh Manusia.
Jilid I. Jakarta.
Binarupa aksara.
2.
Kusuma, Priska Dewi (2008). Perbedaan
Tajam
Penglihatan
Pasca Operasi Katarak Senilis. Hal 4-5.
3.
Wilson, Josephine F (2003). Biological
Foundations
of Human Behavior.
Canada. Thomson learning.
4. Percobaan : Indera
Penglihatan
Nama
percobaan : Membedakan
dan percampuran warna secara objektif
Subjek
percobaan : Andika
Ibnul Faisal Sadif
Tempat
percobaan : Laboratorium
Dasar Psikologi Faal
a.
Tujuan : Untuk
mengetahui perbedaan orang
yang matanya
normal atau buta
warna.
b. Dasar Teori
:
Buta
warna adalah
salah satu penyakit yang cukup
serius dalam suatu
silsilah keluarga. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit menurun. Buta
warna yaitu ketidakmampuan dalam membedakan dua atau lebih corak spectrum
warna. (Plotnik,2005:99).
Buta warna terbagi
menjadi 2 jenis yaitu :
Monokromat
(buta warna total) yaitu hanya dapat melihat warna hitam dan putih saja.
Penderita ini jarang di temui. (Plotnik,2005:99)
Dikromat (buta
warna sebagian), biasanya tidak dapat membedakan warna-warna tertentu dengan
baik. Missalnya membedakan warna merah dan hijau, hal ini disebabkan karena meraka
hanya memiliki dua jenis cones. (Plotnik,2005:99)
Selain karena factor
turunan, buta warna juga dapat di sebabkan oleh kelainana sejak lahir atau
akibat pengaruh obat-obatan yang berlebihan. Buta warna biasanya dapat di
jumpai pada anak laki-laki, sendangkan wanita hanya pembawa gen tersebut.
Thomas Young dan
Hermann Von. H, menyimpulkan bahwa hanya tiga reseptor yang di butuhkan untuk
melihat seluruh warna. Tiga reseptor ini masing-masing merupakan warna dasar
yaitu merah, biru dan hijau.
c. Alat yang di gunakan : a.
kaca biasa
b. Benang wol berbagai
warna
c. Kertas :
Merah dan kuning
Biru dan kuning
Merah dan biru
d.
Jalannya
percobaan : 4.1.
Menggunakan benang wol berbagai warna.
Praktikan mengambil 5
warna yang sesuai dengan warna yang diberikan oleh penguji secara cepat.
4.2. Menebak
warna
Praktikan menyebutkan
warna apa yang dihasilkan dari perpaduan warna pada kaca.
e.
Hasil
percobaan : 4.1.
Menggunakan benag wol berbagai warna
5
warna yang di ambil praktikan secara cepat sesuai dengan warna yang diberikan
oleh penguji.
4.2 Menebak
warna
4.2.1.
Merah dan biru
Pada percobaan ini
praktikan menyebutkan warna yang dihasilkan adalah ungu
4.2.2.
Merah dan kuning
Pada
percobaan ini praktikan menyebutkan warna yang di hasilkan adalah orange.
4.2.3.
Kuning dan biru
Pada
percobaanini praktikan menyebutkan warna yang di hasilkan adalah hijau.
f.
Hasil
sebenarnya : Menebak
warna
a. Merah
dan biru = ungu
b. Merah
dan kuning = orange
c. Kuning
dan biru = hijau
g. Kesimpulan : Subjek yang di uji
pada percobaan ini dapat
membedakan warna serta
mengambil dan menebak warna dengan benar. Kesimpulannya adalah subjek tidak
mengalami buta warna secara total ataupun sebagian.
h. Daftar pustaka : 1. Basuki, Heru A.M (2008).
Psikologi Umum.
Jakarta. Universitas Gunadarma.
2. Wilson, Josephine
F (2003). Biological
Foundations
of Human Behavior. Canada. Thomson learning.
3.
Guyton, Artur
C. (1994). Fisiologi Tubuh
Manusia.
Jilid I. Jakarta. Binarupa aksara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar